Brand Logo
Icon

Search all

Brand Logo
Icon

Search all

Brand Logo
Icon

[Ep. 001]

Podcast Image
Podcast Image
Podcast Image

Sepertinya Rise Of The Ronin kurang yah

Duration:

1hr 7min

Introduction

Rise of the Ronin hadir sebagai action RPG berlatar sejarah Jepang yang ambisius. Dikembangkan dengan pendekatan Souls-like ringan, game ini mencoba memadukan combat berat ala Sekiro dan Nioh dengan struktur open world yang lebih ramah pemain.

Dalam sesi podcast after-review yang santai, para host membedah pengalaman bermain Ronin secara jujur. Hasilnya adalah gambaran game yang sangat kuat di sisi gameplay, namun goyah dalam narasi dan sistem pendukungnya.

Genre dan Identitas Gameplay

Ronin diposisikan sebagai hybrid action RPG dengan elemen hack and slash dan Souls-like. Tempo combat terasa lebih berat dan lambat, tidak secepat game action modern lain, tetapi tetap responsif.

Berbeda dari Souls klasik, Ronin tidak terlalu menekan stamina management. Sistem parry utama bernama Counter Spark dibuat cukup forgiving, sehingga pemain tidak dihukum keras saat gagal timing. Ini membuat combat terasa fun, bukan frustratif.

Pendekatan ini menjadikan Ronin relatif ramah untuk pemain baru di genre Souls-like.

Setting Cerita dan Latar Sejarah

Game ini mengambil latar era Bakumatsu, periode penuh konflik politik di Jepang. Ronin mencampur tokoh sejarah nyata seperti Ryoma Sakamoto dengan karakter fiksi.

Pemain mengendalikan dua saudara samurai yang terpisah dan saling mencari di tengah kekacauan politik. Secara konsep, ini terdengar kuat, namun eksekusinya kurang menggigit. Cerita dinilai rumit, bertele-tele, dan kurang memiliki emotional hook. Konflik politik antara kubu Anti-Shogunate dan Pro-Shogunate hadir, tetapi dampaknya terhadap pemain terasa dangkal.

Sistem Faksi yang Kehilangan Makna

Salah satu kritik terbesar adalah sistem faksi. Pemain bebas memilih kubu, namun pilihan tersebut hampir tidak membawa konsekuensi apa pun.

Semua faksi tetap bersahabat, tidak ada perubahan signifikan pada cerita atau dunia. Hadiah dari faksi lebih berfokus pada gear dan senjata legendaris, bukan perkembangan naratif. Akibatnya, sistem ini terasa seperti peluang besar yang terbuang.

Combat dan Mekanisme Gameplay

Di sinilah Ronin benar-benar bersinar. Combat adalah daya tarik utama game ini.

Pemain bisa berganti karakter saat bertarung untuk memperpanjang survivability. Sistem senjata sangat variatif dengan berbagai stance. Senjata seperti Dual Swords dan kombinasi Katana-Odachi menjadi favorit karena fleksibilitasnya.

Elemen seperti api, racun, dan listrik memang ada, namun pengaruh taktisnya terasa minim. Musuh juga cenderung tidak terlalu agresif, membuat game ini relatif memaafkan kesalahan pemain.

Eksplorasi dan Desain Dunia

Ronin menggunakan pendekatan semi-open world dengan area besar seperti Yokohama, Edo, dan Kyoto. Dunia ini cukup luas, tapi tidak terasa menakutkan atau melelahkan.

Traversal menjadi salah satu aspek terbaik, dengan mekanik gliding, grappling hook, dan fast travel yang efisien. Kyoto dipuji sebagai area paling indah dan hidup secara visual. Namun, beberapa fitur seperti berkuda terasa setengah matang dan jarang benar-benar berguna.

Visual dan Performa Teknis

Secara visual, Ronin terlihat solid, terutama saat pertarungan boss dan ketika dimainkan di performance mode. Namun, peningkatan dari PS4 ke PS5 dianggap tidak terlalu signifikan bagi pemain kasual.

Para host sepakat bahwa untuk menikmati kualitas visual maksimal, dibutuhkan hardware yang mumpuni seperti monitor high-end atau TV OLED. Ronin bukan game yang “wah” secara grafis, tapi konsisten dan stabil.

Side Content dan Quality of Life

Sayangnya, side activity menjadi titik lemah besar. Misi sampingan seperti mengumpulkan kucing atau fotografi dianggap membosankan dan minim reward.

Sistem home base juga kurang menarik karena tidak adanya sudut pandang third-person saat kustomisasi. Bonding dengan karakter terasa lambat, dangkal, dan tidak memberikan payoff emosional. Banyak konten terasa ada hanya untuk memenuhi checklist.

Narasi dan Pengembangan Karakter

Meski memiliki banyak karakter, Ronin gagal membuat pemain benar-benar peduli. Bonding hanya membuka stance tambahan, tanpa memperkuat hubungan emosional.

Banyak karakter memiliki nasib yang sudah bisa ditebak, terlepas dari pilihan pemain. Hal ini semakin melemahkan ilusi kebebasan dan peran pemain dalam cerita. Narasi terasa terputus-putus dan tidak fokus.

Timing Rilis dan Posisi di Pasar

Ronin juga dirugikan oleh timing rilis yang buruk. Game ini muncul di tengah bayang-bayang raksasa seperti FF7 Rebirth dan Elden Ring, membuatnya kurang mendapat sorotan. Padahal, dengan positioning yang lebih tepat, Ronin bisa mendapat perhatian lebih besar.

Conclusion

Rise of the Ronin adalah game yang paradoks. Di satu sisi, ia menawarkan sistem combat yang solid, fun, dan memuaskan, dengan latar sejarah Jepang yang menarik. Di sisi lain, narasi yang membingungkan, sistem faksi yang hambar, dan side content yang lemah menggerogoti potensi besarnya.

Ini bukan game yang buruk, tapi game yang terasa belum sepenuhnya matang. Bagi penggemar action RPG dan tema Jepang, Ronin tetap layak dimainkan dengan ekspektasi yang tepat. Ia menuntut kesabaran, namun memberikan pengalaman combat yang sulit ditolak.

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.