Brand Logo
Icon

Search all

Brand Logo
Icon

Search all

Brand Logo
Icon

[Ep. 004]

Podcast Image
Podcast Image
Podcast Image

Gausah main, Pusing main Death Stranding 2

Duration:

1hr 55min

Introduction

Death Stranding 2 hadir sebagai kelanjutan ambisius dari karya paling eksperimental Hideo Kojima. Jika game pertamanya terkenal karena pacing lambat dan sistem porter yang melelahkan, sekuelnya justru memicu perdebatan: apakah DS2 adalah evolusi yang lebih ramah pemain, atau kompromi yang mengorbankan identitas aslinya?

Dengan gameplay yang lebih cepat, cerita yang semakin abstrak, dan karakter-karakter baru yang mencuri perhatian, Death Stranding 2 memposisikan diri sebagai pengalaman yang lebih mudah diakses, namun tetap sarat makna dan interpretasi.

Apakah Death Stranding 2 Cocok untuk Pemain Baru?

Salah satu keunggulan terbesar DS2 adalah aksesibilitasnya. Dibandingkan Death Stranding pertama, game ini terasa jauh lebih nyaman dimainkan. Fast travel tersedia lebih awal, kendaraan lebih kuat dan fleksibel, serta medan yang relatif lebih bersahabat.

Bagi pemain baru, DS2 bisa menjadi entry point yang menyenangkan ke dunia Death Stranding. Namun, ada harga yang harus dibayar. Tanpa pengalaman memainkan game pertama, pemain berpotensi kehilangan konteks emosional, relasi karakter, dan bobot tema yang dibangun sebelumnya.

Walaupun DS2 mampu berdiri sendiri secara struktural, pengalaman naratifnya terasa lebih utuh jika pemain memahami fondasi dari game pertama.

Cerita yang Kompleks, Ambigu, dan Sarat Interpretasi

Secara naratif, Death Stranding 2 melanjutkan gaya khas Kojima: fragmentaris, simbolik, dan penuh lapisan makna. Cerita menggabungkan fiksi ilmiah, mitologi Mesir, dan tema eksistensial tentang kebebasan versus kontrol.

Beberapa pertanyaan dari DS1 memang mendapat jawaban, namun banyak elemen tetap dibiarkan ambigu. Karakter seperti Nil, bayi misterius, dan beberapa peristiwa kunci justru memunculkan teori baru di kalangan fans.

Antagonis utama, Higgs, menjadi contoh paling jelas dari pendekatan ini. Sebagian melihatnya sebagai figur nihilistik yang ingin mempercepat kehancuran dunia, sementara yang lain menafsirkannya sebagai kekacauan murni tanpa motivasi rasional. DS2 tidak memaksa satu jawaban tunggal—dan itulah kekuatannya sekaligus tantangannya.

Karakter yang Menjadi Pusat Perhatian

Walau Sam tetap menjadi poros cerita, DS2 justru bersinar lewat karakter pendukungnya. Tomorrow menjadi sosok paling mencuri perhatian. Hampir tanpa dialog, ia tampil visual-striking dan memiliki dampak emosional yang besar, terutama dalam momen-momen gameplay intens.

Higgs, yang kembali diperankan Troy Baker, mendapat banyak pujian berkat karisma villain-nya yang teatrikal dan “Joker-esque”. Tarman hadir sebagai karakter pendukung dengan kedalaman emosional, sementara Dolman berfungsi sebagai companion yang informatif tanpa terasa mengganggu, penuh komentar cerdas dan easter egg. Kekuatan DS2 terletak pada bagaimana karakter-karakter ini memberi warna pada dunia yang sunyi dan absurd.

Gameplay: Lebih Cepat, Lebih Mudah, Lebih Fokus ke Eksplorasi

Secara mekanik, DS2 terasa jauh lebih ringan dibanding pendahulunya. Sistem porter yang dulu melelahkan kini disederhanakan. Inventory lebih efisien, kendaraan dilengkapi senjata dan auto-pickup, serta efek cuaca seperti timefall tidak lagi terlalu menghukum.

Perubahan ini menggeser fokus gameplay dari manajemen logistik ekstrem ke eksplorasi dan combat. Bagi banyak pemain, ini adalah peningkatan besar. Namun, bagi fans DS1, ada perasaan bahwa tantangan inti dan ketegangan khas “porter experience” sedikit terkikis. DS2 adalah game yang lebih fun, tapi juga lebih kompromistis.

Infrastruktur Online dan Social Strand System

Fitur kolaborasi online kembali menjadi elemen penting. Pemain dapat membangun jalan, struktur, dan infrastruktur bersama, termasuk jalan beratap yang melindungi dari timefall.

Namun, penutupan server di pertengahan Juni menjadi catatan serius. Hilangnya akses ke konstruksi bersama dan elemen multiplayer mengurangi dampak sosial di late game, yang seharusnya menjadi inti filosofi Death Stranding.Meski begitu, Social Strand System—yang menyerupai feed media sosial—tetap memperkuat rasa koneksi antar pemain.

Musik dan Atmosfer: Jantung Pengalaman DS2

Soundtrack Death Stranding 2 mendapat pujian hampir tanpa cela. Musik bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian inti dari pengalaman bermain.

Lagu-lagu tertentu muncul di momen perjalanan sunyi, menciptakan emosi reflektif yang khas. Beberapa track bahkan memicu nostalgia dan nuansa pop culture, termasuk vibe ala Ultraman saat menghadapi musuh raksasa. Berbeda dengan radio GTA yang berorientasi aksi, musik DS2 berfungsi sebagai pendamping eksistensial—sunyi, melankolis, dan menghanyutkan.

DNA Kojima yang Semakin Kental

Dari sisi penulisan, DS2 sangat terasa sebagai evolusi gaya Metal Gear Kojima. Eksposisi terfragmentasi, lore kompleks, karakter ikonik, serta obsesi terhadap mitologi dan simbolisme kembali mendominasi.

Game ini seperti pertemuan antara sci-fi, mitologi, dan espionage thriller, dibungkus dalam dunia post-apocalyptic yang aneh namun memikat. Easter egg, referensi budaya pop, dan cameo figur publik mencerminkan dunia internal Kojima yang nyaris tanpa filter.

Apakah Death Stranding Akan Berlanjut ke DS3?

Diskusi soal Death Stranding 3 mengarah pada kemungkinan trilogi, meski belum ada kepastian. Beberapa pihak merasa kisah Sam sudah selesai, dan kelanjutan seri sebaiknya berfokus pada karakter baru—Tomorrow sering disebut sebagai kandidat protagonis potensial.

Jika DS3 benar-benar terjadi, banyak yang berharap gameplay-nya akan lebih action-oriented, namun tetap mempertahankan identitas filosofis seri ini.

Performa Teknis dan Platform

Versi PS5 Pro menjadi pilihan terbaik, menawarkan performa hingga 120 FPS dan visual yang lebih stabil. Optimalisasi game ini dipuji, terutama jika dibandingkan dengan rilis besar lain yang bermasalah.

Namun, kembali, penutupan server menjadi kelemahan signifikan yang memengaruhi pengalaman jangka panjang.

Death Stranding 2 dan Perdebatan Game of the Year

Dalam diskusi GOTY, DS2 berada di posisi unik. Ia dianggap sangat enjoyable namun tetap niche. Beberapa game lain seperti Clear Obscure dipuji karena storytelling kompleks dengan daya tarik lebih luas, sementara Mafia: Old Country disukai karena narasi linear dan aksesibilitas tinggi.

DS2 mungkin bukan pilihan aman untuk GOTY, tetapi jelas menjadi salah satu pengalaman paling unik dan berani di lanskap game modern.

Conclusion

Death Stranding 2 adalah sekuel yang lebih ramah pemain, lebih cepat, dan lebih menyenangkan, tanpa sepenuhnya meninggalkan DNA eksperimental Kojima. Ia unggul dalam atmosfer, musik, karakter, dan polish teknis, namun juga memicu perdebatan soal penyederhanaan gameplay dan kompleksitas narasi.

Game ini bukan untuk semua orang—dan mungkin memang tidak dimaksudkan demikian. DS2 berdiri sebagai karya yang mengundang diskusi, teori, dan interpretasi, memperkuat posisinya sebagai salah satu pengalaman paling khas di industri game saat ini.

Bukan sekadar game, Death Stranding 2 adalah percakapan panjang antara Kojima dan para pemainnya.

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.