Brand Logo
Icon

Search all

Brand Logo
Icon

Search all

Brand Logo
Icon

[Ep. 003]

Podcast Image
Podcast Image
Podcast Image

AC Shadows belum bisa ngangkat Ubisoft

Duration:

1hr 30min

Introduction

Assassin’s Creed Shadows menjadi salah satu rilisan Ubisoft yang paling banyak dibicarakan, bukan hanya karena akhirnya membawa seri ini ke Jepang feodal, tetapi juga karena keputusan berani menghadirkan dua protagonis dengan latar dan gaya bermain yang sangat kontras: Yasuke dan Naoe.

Lewat diskusi panjang para host podcast yang telah menghabiskan puluhan jam bermain, Assassin’s Creed Shadows terlihat sebagai game yang solid secara fondasi, memukau secara visual, namun menyisakan sejumlah kelemahan struktural yang memicu perdebatan, baik dari sisi narasi, desain sistem, maupun representasi budaya.

Durasi Bermain dan Kedalaman Eksplorasi

Para host podcast menghabiskan waktu yang signifikan untuk memahami game ini secara menyeluruh. Durasi bermain berkisar antara 46 hingga hampir 80 jam, dengan level karakter berada di rentang 44 hingga mendekati maksimal.

Konsensusnya jelas: dengan total waktu tersebut, Assassin’s Creed Shadows berhasil dieksplorasi secara komprehensif. Mulai dari cerita utama, side mission, hingga sistem progresi, semua aspek game sudah cukup terbuka untuk dinilai secara adil.

Kekuatan Utama: Visual dan Representasi Budaya Jepang

Satu hal yang nyaris tidak diperdebatkan adalah kualitas visual. Assassin’s Creed Shadows disebut sebagai representasi Jepang feodal terbaik dalam game modern, bahkan melampaui Ghost of Tsushima dan Rise of the Ronin.

Detail arsitektur, lanskap, pakaian, hingga atmosfer era Oda Nobunaga menghadirkan sensasi “digital tourism” yang kuat. Game ini tidak sekadar menjadi latar aksi, tetapi juga ruang eksplorasi budaya yang imersif dan autentik. Pendekatan ini membuat eksplorasi terasa bermakna, meski tanpa banyak aktivitas sampingan yang variatif.

Yasuke: Pilar Narasi dan Simbol Perubahan

Yasuke dipandang sebagai elemen terkuat Assassin’s Creed Shadows. Bukan hanya sebagai karakter playable, tetapi sebagai simbol transisi sejarah Jepang, momen ketika pengaruh asing mulai masuk dan membentuk era baru.

Pilihan Ubisoft menjadikan Yasuke sebagai protagonis dianggap berani dan tepat. Meski ada perdebatan apakah ia seharusnya menjadi NPC saja, mayoritas sepakat bahwa memainkan Yasuke secara langsung adalah kunci untuk memahami bobot naratif dan emosionalnya. Secara gameplay, Yasuke juga memberi kontras tajam dengan Naoe. Gaya bertarung brutal, frontal, dan berbasis kekuatan menciptakan ritme yang berbeda dari stealth klasik Assassin’s Creed.

Dualisme Gameplay: Yasuke vs Naoe

Salah satu inovasi paling segar adalah dualisme gameplay. Naowe membawa pendekatan shinobi, sunyi, cepat, dan penuh taktik, sementara Yasuke hadir sebagai kekuatan destruktif yang menghancurkan musuh secara langsung.

Perbedaan ini membuat gameplay terasa variatif dan mencegah kejenuhan, terutama dalam misi-misi panjang. Core loop Assassin’s Creed parkour, stealth, dan assassination tetap solid dan memuaskan, meski dibalut pendekatan yang lebih grounded dan realistis.

Kelemahan Narasi dan Struktur Cerita

Sayangnya, kekuatan karakter tidak sepenuhnya didukung oleh cerita utama. Narasi inti, terutama yang berkaitan dengan faksi Sinbakufu serta relasi Yasuke dan Naowe, dinilai kurang matang dan terasa terputus-putus.

Banyak konflik penting tidak berkembang secara organik, dan klimaks cerita berakhir dengan cliffhanger yang terasa mendadak. Ending ini jelas mengisyaratkan DLC atau kelanjutan cerita, tetapi meninggalkan terlalu banyak benang yang belum terikat.

Masalah Konten Sampingan dan Sistem Progresi

Side mission menjadi titik lemah lain. Banyak misi terasa repetitif dan minim variasi, membuat eksplorasi kehilangan momentum dalam jangka panjang.

Absennya mini-games yang sebelumnya menjadi ciri khas game Ubisoft seperti Valhalla juga mengurangi kedalaman aktivitas di luar misi utama. Saat pemain ingin “bernapas” dari cerita utama, game ini tidak menyediakan cukup distraksi yang menarik. Sistem knowledge point dianggap memperlambat progresi secara tidak perlu, sementara fitur hideout dan scouting terasa dangkal, terfragmentasi, dan kurang efisien.

Kustomisasi dan Desain yang Terlalu Grounded

Pendekatan realistis memang konsisten dengan tone game, tetapi berdampak pada minimnya variasi senjata dan kostum. Banyak pemain merasa kustomisasi kehilangan unsur fun dan flair yang biasanya menjadi daya tarik Assassin’s Creed.

Pilihan desain ini membuat progression terasa datar, terutama bagi pemain yang menikmati ekspresi visual karakter.

Kontroversi, Representasi, dan Reaksi Komunitas

Podcast juga membahas kontroversi seputar representasi budaya, karakter Yasuke, serta isu inklusivitas seperti LGBT representation. Para host menilai bahwa sebagian besar backlash datang dari pihak yang belum benar-benar memainkan game-nya.

Mereka menekankan pentingnya kebebasan artistik, pilihan pemain, dan kedewasaan audiens. Isu-isu ini dianggap lebih sebagai refleksi ketegangan budaya tertentu, bukan indikator kualitas gameplay. Tanggung jawab orang tua dalam menyaring konten juga ditekankan, alih-alih menyalahkan developer.

Kontroversi, Representasi, dan Reaksi Komunitas

Podcast juga membahas kontroversi seputar representasi budaya, karakter Yasuke, serta isu inklusivitas seperti LGBT representation. Para host menilai bahwa sebagian besar backlash datang dari pihak yang belum benar-benar memainkan game-nya.

Mereka menekankan pentingnya kebebasan artistik, pilihan pemain, dan kedewasaan audiens. Isu-isu ini dianggap lebih sebagai refleksi ketegangan budaya tertentu, bukan indikator kualitas gameplay. Tanggung jawab orang tua dalam menyaring konten juga ditekankan, alih-alih menyalahkan developer.

Harapan ke Depan

Cliffhanger ending membuka peluang besar untuk DLC yang memperdalam cerita dan memperbaiki kekurangan struktural. Ada pula spekulasi bahwa Jepang masih akan menjadi latar penting untuk masa depan seri ini.

Ekspektasi ke depan adalah Ubisoft mampu mempertahankan autentisitas budaya sambil memperkaya variasi gameplay dan narasi.

Conclusion

Assassin’s Creed Shadows adalah game yang memukau secara visual dan kuat secara tematik, terutama lewat representasi Jepang feodal dan karakter Yasuke yang ikonik. Ia berhasil menyegarkan formula Assassin’s Creed tanpa mengkhianati identitas dasarnya.

Namun, kelemahan pada cerita utama, side mission yang repetitif, dan sistem progresi yang kurang efisien menahan game ini dari potensi maksimalnya. Terlepas dari kontroversi dan kekurangannya, Assassin’s Creed Shadows tetap menjadi entri yang layak dimainkan terutama bagi penggemar seri yang menginginkan pengalaman Assassin’s Creed yang lebih grounded, dewasa, dan kaya konteks budaya.

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.