Brand Logo
Icon

Search all

Brand Logo
Icon

Search all

Brand Logo
Icon

[Ep. 002]

Podcast Image
Podcast Image
Podcast Image

Agak berat buat Spiderman 2 buat GOTY?

Duration:

1hr 44min

Introduction

Marvel’s Spider-Man 2 datang dengan ekspektasi besar. Sebagai sekuel dari dua game Spider-Man yang sangat sukses, game ini tidak hanya dituntut untuk lebih besar dan lebih seru, tetapi juga cukup inovatif untuk bersaing di tahun 2023 yang dipenuhi rilisan kelas berat seperti The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom dan Baldur’s Gate 3.

Lewat diskusi panjang para host podcast, Spider-Man 2 terlihat sebagai game yang sangat solid secara kualitas, namun memunculkan perdebatan sengit soal apakah ia benar-benar layak menyandang gelar Game of the Year.

Spider-Man 2 sebagai Kandidat GOTY

Pendapat soal peluang Spider-Man 2 di GOTY terbelah. Sebagian host, termasuk Bung Dani, percaya bahwa Spider-Man 2 punya peluang besar berkat daya tarik massal, popularitas brand Marvel, dan kualitas produksinya yang konsisten.

Namun, ada juga yang pesimis. Alasannya sederhana: kompetisi di 2023 terlalu brutal. TOTK dan Baldur’s Gate 3 dianggap menawarkan inovasi gameplay dan kompleksitas sistem yang jauh lebih berani. Perbandingan dengan GOTY 2018 pun muncul. Saat itu, God of War mengalahkan Red Dead Redemption 2 bukan karena lebih unggul secara teknis, tetapi karena daya tariknya yang lebih luas. Dalam konteks ini, Spider-Man 2 dinilai bisa menang karena faktor popularitas, meski secara desain tidak se-ambisius para rivalnya.

Narasi dan Pengembangan Karakter

Salah satu kekuatan terbesar Spider-Man 2 adalah ceritanya. Fokus pada sisi manusia di balik topeng superhero terasa sangat kuat. Peter Parker, Miles Morales, dan Mary Jane mendapat pengembangan karakter yang matang dan emosional.

Mary Jane secara khusus dipuji karena perannya yang lebih bermakna, bukan sekadar karakter pendukung pasif. Relasinya dengan Peter terasa dewasa dan relevan. Venom menjadi puncak narasi. Versi Harry Osborn sebagai Venom dianggap berhasil secara emosional, dengan motivasi yang masuk akal dan tragis. Kehadiran symbiote tidak hanya memperkuat cerita, tetapi juga memberi dampak langsung ke gameplay.

Gameplay, Skala, dan Inovasi

Secara gameplay, Spider-Man 2 sangat menyenangkan. Traversal tetap menjadi salah satu yang terbaik di genre open world, dan symbiote abilities membawa dinamika baru ke sistem combat.

Pertarungan terasa lebih agresif, boss fight lebih eskalatif, dan variasi musuh meningkat. Game ini berhasil menjaga keseimbangan antara kompleksitas dan aksesibilitas, sehingga ramah untuk pemain baru sekaligus memuaskan veteran. Namun, kritik utama muncul di sini: tidak ada “wow factor” besar. Banyak peningkatan terasa seperti evolusi alami, bukan revolusi. Beberapa host bahkan menyamakan lonjakannya dengan upgrade tahunan game olahraga—lebih halus, lebih rapi, tapi tidak mengejutkan.

Konten LGBTQ+ dan Isu Orang Tua

Salah satu topik paling sensitif adalah kehadiran elemen LGBTQ+ dalam game. Beberapa host merasa tidak nyaman ketika memainkan game ini bersama anak-anak, meski game sudah diberi rating usia yang sesuai.

Diskusi berkembang ke arah yang lebih dewasa. Semua sepakat bahwa representasi tersebut disajikan dengan hormat dan mencerminkan dunia nyata. Namun, tanggung jawab utama tetap berada di orang tua untuk mendampingi, menjelaskan, dan memfilter konten sesuai usia anak. Alih-alih menyalahkan developer, podcast ini menekankan pentingnya komunikasi dan literasi media dalam keluarga.

Persaingan Ketat di Tahun 2023

Spider-Man 2 tidak berdiri sendiri. Tahun 2023 dipenuhi game kuat dari berbagai genre, mulai dari TOTK dan Baldur’s Gate 3, hingga Hogwarts Legacy, Street Fighter 6, Diablo 4, dan Dead Space Remake.

Preferensi host pun beragam. Ada yang condong ke RPG kompleks, ada yang ke fighting game, dan ada juga yang memilih game “nyeleneh” sebagai favorit pribadi. Dalam konteks ini, Spider-Man 2 sering masuk top 3, tetapi jarang menjadi pilihan mutlak nomor satu.

Masa Depan Spider-Man dan Marvel Gaming Universe

Diskusi berlanjut ke masa depan. Ekspektasi terhadap DLC dan sekuel sangat tinggi. Banyak harapan muncul untuk karakter playable baru seperti Silk, Miles Morales versi lebih matang, hingga Eddie Brock sebagai Venom.

Crossover dengan karakter Marvel lain juga menjadi impian besar, mulai dari Wolverine, Fantastic Four, hingga Doctor Strange. Insomniac dinilai sedang membangun fondasi untuk Marvel Gaming Universe yang lebih luas dan saling terhubung.

Komunitas dan Peran Podcast Gaming

Selain game itu sendiri, podcast ini juga menyinggung pentingnya komunitas. Event seperti G2G disebut sebagai ruang vital bagi ekosistem gaming Indonesia, tempat diskusi, apresiasi, dan budaya gaming tumbuh secara sehat.

Para host melihat peran podcast dan media komunitas sebagai jembatan antara game, pemain, dan diskursus yang lebih dewasa.

Conclusion

Marvel’s Spider-Man 2 adalah game superhero berkualitas tinggi dengan narasi kuat, karakter emosional, dan gameplay yang sangat menyenangkan. Ia berhasil menyempurnakan fondasi seri sebelumnya tanpa merusaknya.

Namun, pendekatan yang aman dan inovasi yang bersifat incremental membuat peluangnya sebagai GOTY tidak mutlak, terutama di tengah persaingan brutal tahun 2023. Terlepas dari itu, Spider-Man 2 tetap menjadi salah satu representasi terbaik game superhero modern—dan fondasi kuat bagi masa depan Marvel di dunia gaming.

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.